![]() |
| Toilet Orion Mampet dan Bau di Tengah Misi ke Bulan, Astronaut Artemis II Tetap Tenang |
PAKARINFO.CO.ID — Perjalanan empat astronaut menuju Bulan dalam misi Artemis II ternyata tidak sepenuhnya mulus. Di balik pencapaian penting yang diraih selama lima hari mengudara, kru pesawat luar angkasa Orion menghadapi kendala teknis yang cukup mengganggu, yakni toilet kapsul yang mengalami gangguan.
Pada Senin, 6 April 2026, Orion dilaporkan telah berhasil keluar dari orbit Bumi dan melanjutkan perjalanan menuju Bulan. Namun di tengah misi bersejarah tersebut, sistem toilet di dalam kapsul dilaporkan tidak berfungsi secara optimal sejak awal peluncuran yang berlangsung pada 2 April 2026 waktu Indonesia Barat.
Toilet bermasalah sejak awal peluncuran
Masalah pada fasilitas sanitasi ini bukan hal sepele. Toilet di Orion hanya dapat digunakan secara terbatas dan tidak selalu berfungsi dengan baik. Selama gangguan ini belum teratasi, pusat kendali misi menginstruksikan para astronaut untuk menggunakan kantong cadangan khusus guna menampung urine.
Para insinyur menduga penyebab utama gangguan tersebut adalah adanya pembekuan es yang menyumbat saluran pembuangan, sehingga urine tidak dapat dialirkan dengan sempurna. Meski begitu, toilet masih bisa digunakan untuk keperluan buang air besar.
Sistem toilet ini sebelumnya telah diuji di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Namun, dalam praktiknya masih ditemukan sejumlah kerentanan yang bisa memicu masalah teknis seperti yang terjadi saat ini.
Bau tak sedap ganggu kenyamanan kru
Selain tidak berfungsi maksimal, toilet tersebut juga menimbulkan bau tidak sedap yang tercium di dalam kapsul. Area kamar mandi Orion sendiri berada di bagian lantai kapsul dan dilengkapi pintu serta tirai untuk menjaga privasi awak.
Wakil Manajer Program Orion NASA, Debbie Korth mengakui bahwa persoalan toilet di luar angkasa memang bukan hal baru.
“Toilet luar angkasa itu hal yang semua orang bisa bayangkan… dan memang selalu jadi tantangan,” ujarnya.
Astronaut tetap tenang hadapi situasi
Meski menghadapi kendala yang cukup mengganggu, kondisi kru dilaporkan tetap stabil dan terkendali. Pimpinan Tim Manajemen Misi, John Honeycutt menegaskan bahwa para astronaut telah dipersiapkan untuk menghadapi berbagai situasi darurat.
“Mereka baik-baik saja, Mereka sudah dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini,” katanya.
Aktivitas harian kru pun tetap berjalan seperti biasa. Pada Minggu waktu Amerika Serikat, para astronaut memulai hari dengan lagu Pink Pony Club dari Chappell Roan, dilanjutkan sarapan sederhana berupa telur orak-arik dan kopi.
Komandan misi, Reid Wiseman, bahkan sempat berbagi momen emosional saat berkomunikasi dengan keluarganya dari luar angkasa.
“Moral kru sangat tinggi. Kami berada sangat jauh, tapi sesaat saya merasa kembali bersama keluarga kecil saya. Itu momen terbaik dalam hidup saya,” kata Wiseman kepada pusat kendali di Houston.
Misi bersejarah setelah lebih dari 50 tahun
Misi Artemis II menjadi tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa, karena untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad manusia kembali melakukan perjalanan menuju Bulan. Sebelumnya, misi terakhir ke Bulan dilakukan melalui program Apollo yang berakhir pada 1972.
Empat astronaut yang terlibat dalam misi ini terdiri dari Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, Christina Koch sebagai spesialis misi sekaligus satu-satunya perempuan dalam kru, serta Jeremy Hansen dari Kanada.
Mereka menjalankan misi menggunakan pesawat luar angkasa Orion, yang menjadi bagian dari program Artemis milik NASA untuk membuka jalan bagi eksplorasi manusia ke Bulan dan Mars di masa depan.
Di tengah ambisi besar tersebut, gangguan teknis seperti toilet mampet menjadi pengingat bahwa perjalanan luar angkasa masih menyimpan berbagai tantangan—bahkan untuk hal paling mendasar sekalipun.



